Yang Hila Dicaroi, Yang Hanyauk Dipinteah, Sailae Dingan Samudek Dibusameo

16 June 2011

Tentang Penulis

Dari sebuah desa kecil di pinggiran kaki perbukitan Andalas, yang berada di daerah dataran tinggi Sumatera. Setiap hari dihembus oleh bayu pegunungan yang sejuk dan basah. Sejak lahir, lebih dari tiga puluh tahun yang lalu di desa kecil inilah lebih dari separuh usia dihabiskan. Menempuh pendidikan dasar dan menengah di desa kecil ini. Tanjung Tanah Kerinci, selalu dan akan selalu berada di hati. Dan cerita masa kecil inilah yang lebih banyak mencorakkan dan memberi warna pada jati diri hari ini.

11 June 2011

Penderitaan Khabbab Bin Al Arat R.A.


      Khabbab adalah seorang sahabat Nabi yang tubuhnya penuh dengan keberkahan karena telah mengalami berbagai ujian dan cobaan. Dia orang kelima atau keenam yang memeluk Islam ketika Islam mulai berkembang, karena itu penderitaan yang dialaminya pun agak lama. Dia pernah di paksa mengenakan baju besi dan dibaringkan di atas pasir yang panas, sehingga kulitnya mengelupas terkena sinar matahari yang terik. Khabbab adalah hamba sahaya milik seorang perempuan. Ketika tuannya mengetahui bahwa dia sering mengunjungi Nabi saw., kepalanya diselar dengan besi panas yang merah menyala.
 Ilustrasi

Kisah – 6


Sirri rah.a. pernah mengalami peristiwa seperti itu. Dia berkata, “ Suatu hari, saya telah membeli seorang budak wanita untuk melayani saya. Setelah beberapa hari dia melayani saya, dia tetap merahasiakan tentang dirinya. Dia membuat suatu tempat khusus untuk shalat. Jika selesai melayani keperluan saya, dia akan pergi ke tempat itu dan menyibukkan dirinnya dengan shalat. Saya melihatnya pada suatu malam, terkadang dia sibuk shalat pada suatu malam, dan terkadang sibuk dengan berdoa. Dia bermunajat, “Wahai Allah, berkat cinta-Mu kepada saya, maka saya bekerja pada fulan bin fulan.”Mendengar itu, saya menyahut, “Hai wanita, katakanlah: ‘Berkat cintaku kepada-Mu….’” Dia menyahut, “Tuanku, jika Dia tidak mencintai saya, tidak mungkin tuan akan membiarkan saya melaksanakan shalat.”
            Pada keesokan harinya, saya memanggil wanita itu dan berkata, “Kamu tidak pantas melayani saya. Kamu lebih pantas berkhidmat kepada Allah swt..” Saya memberinya sedikit bekal kemudian membebaskannya.”

Template by:
Free Blog Templates